Perempuan, Jilbab, dan Rokok

Perempuan, Jilbab, dan Rokok – Apa alasan perempuan berjilbab tidak boleh merokok? Nah, sebelum menjawab pertanyaan sepele itu, saya ingin bercerita dulu. Pernah suatu malam saya dan teman-teman sedang hang out ala kids jaman now di salah satu kafe hits yang ada di Pontianak.

Saat itu kami melihat seorang perempuan, cantik versi standar masyarakat. Ia berjilbab, bergincu juga. Kemudian ia menyulut sebatang rokok. Teman saya (yang juga seorang perempuan tapi tidak berjilbab) langsung mengeluarkan celaan dengan nada sinis. Baginya, tak pantas seorang perempuan berjilbab merokok, apalagi di depan umum. Itu merusak etika dan tidak menghormati jilbabnya. Saya tertawa dalam hati, terpingkal-pingkal. Tapi cuma dalam hati.

Lihat, betapa sosok perempuan berjilbab yang merokok menjadi begitu fenomenal di mata masyarakat, bahkan sesama perempuan. Alasan merusak etika dan tidak menghormati jilbab itu bagi saya lucu, naif, dan bodoh! Jika merokok itu merusak etika, mengapa masih banyak laki-laki yang merokok. Jika bagi perempuan berjilbab merokok sama dengan tidak menghormati jilbabnya, mengapa hal yang sama tidak berlaku bagi lelaki berpeci? Faktanya, lelaki berpeci masih dengan bebas kepal-kepul asap rokok di depan umum, bahkan kadang tidak toleran dengan orang yang tidak merokok. Jadi, alasan perempuan berjilbab tidak boleh merokok karena dapat merusak etika dan tidak menghormati jilbabnya adalah alasan bodoh bagi saya.

Perempuan, Jilbab, dan Rokok

Jilbab adalah kewajiban bagi setiap perempuan yang beragama Islam. Jika kewajiban, maka harus dilaksanakan tanpa pengecualian, tanpa alasan. Lantas, jika perempuan berjilbab merokok, kenapa jadi harus dihubung-hubungkan dengan jilbabnya? Bukankah anggapan demikian jadi menimbulkan keraguan, jadi jilbab itu sebenarnya kewajiban atau pilihan? Kalau kewajiban, maka tak peduli siapa, apa, dan bagaimana kelakuannya, selama ia perempuan beragama Islam, maka ia harus memakai jilbab, bahkan pelacur sekalipun. Tapi, jika perempuan merokok lalu dikatakan ia tak menghormati jilbabnya, munafik, merusak etika, hanya karena ia mengenakan jilbab dan merokok, maka boleh kiranya saya berpikir bahwa jilbab itu ternyata pilihan. Perempuan beragama Islam yang belum bisa berlaku baik dan merokok belum boleh mengenakan jilbab. Jika memilih mengenakan jilbab, maka harus berlaku baik.

Saya keheranan dengan pemikiran macam ini. Perempuan dan rokok, mengapa harus selalu memancing stigma negatif dari masyarakat? Perempuan yang merokok dianggap sebagai perempuan “nakal”. Apa karena yang sering merokok di depan umum hanya pelacur? Padahal kenyataannya tidak demikian! Di kampung saya, ada seorang nenek yang merokok dan ia adalah nenek (perempuan) baik-baik yang berprofesi sebagai tukang masak di acara kawinan orang-orang. Saya juga merokok, tapi tidak melacur. Begitu juga dengan perempuan berjilbab yang merokok, bukan berarti dia perempuan “nakal”.

Stereotip buruk yang melekat pada perempuan yang merokok sebenarnya adalah salah satu bukti ketidaksetaraan gender yang ada di masyarakat. Coba pikirkan, laki-laki yang merokok memiliki derajat begitu tinggi, diidentikkan dengan pemikir, sedangkan perempuan kebagian stereotip negatif dari masyarakat, dianggap perempuan sundal. Kenapa hanya laki-laki yang boleh merokok? Apa rokok memang diciptakan khusus untuk laki-laki? Tidak! Hal-hal yang demikian itu terjadi karena budaya patriarki yang begitu mendominasi, sehingga laki-laki selalu mendapat tempat terbaik, dan perempuan menjadi makhluk kedua. Itu juga berarti laki-laki boleh melakukan apa saja semaunya, sedangkan perempuan harus menerima segala yang diberikan kepadanya, termasuk batasan-batasan yang mengekang ruang gerak dan pemikiran. Contohnya, pada kasus perempuan berjilbab yang merokok tadi.

Perempuan, Jilbab, dan Rokok

Lagipula, selain pada nasib perempuan, saya sebenarnya juga prihatin pada nasib rokok. Selama ini yang selalu digembar-gemborkan adalah dampak negatifnya. Ketidakbergunaan rokok disampaikan pada masyarakat secara berulang-ulang dan akhirnya muncul anggapan mutlak dalam masyarakat bahwa merokok adalah sesuatu yang sia-sia. Padahal, ada beberapa dampak positif rokok yang belum diketahui banyak orang. Hal tersebut disebabkan penyebaran informasi mengenai dampak positif rokok tidak seaktif dan seintens penyebarluasan dampak negatifnya. Dampak positif rokok dapat ditemukan dalam berbagai artikel di internet. Beberapa bahkan menyertakan sumber (hasil penelitian) yang dapat dipertanggunjawabkan.

Terlepas dari dampak positifnya, rokok jelas memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Saya sudah menyaksikannya sendiri. Namun, yang perlu semua orang ketahui, dampak negatif rokok itu tak peduli perbedaan jenis kelamin maupun gender. Bagi perempuan, rokok dapat menyebabkan kerusakan sel telur dan janin (bagi ibu hamil). Bagi laki-laki, rokok juga dapat menyebabkan impotensi dan memperburuk kualitas sperma. Jadi sama saja, mau perempuan atau laki-laki, dampak negatif rokok sama-sama berbahaya. Itu baru dampak pada organ reproduksi, belum organ-organ lain dan lagi-lagi, risikonya sama baik bagi perokok perempuan atau laki-laki. Setelah mengetahui dampak negatif tersebut, kembali lagi pada individu masing-masing. Hak tiap individu untuk memutuskan apa yang ingin dilakukan pada tubuhnya. Yang lain jangan nyinyir, selama asap rokoknya tak menganggu siapa-siapa.

Kembali ke pertanyaan awal, apa alasan perempuan berjilbab tidak boleh merokok? Sederhana jawabannya, karena rokok kurang baik bagi kesehatan, dan alasan ini berlaku bagi semua perokok, laki-laki, perempuan, berjilbab, berpeci, bertopi, berkutang, bersempak, semuanya. Tidak ada pengecualian!

Perempuan, jilbab, dan rokok bagi saya sama sekali tak ada kaitannya dengan etika dan berbagai atribut sosial sejenis. Etika dan berbagai atribut sosial tak seharusnya berat sebelah. Jika atas nama etika perempuan kembali menjadi korban, saya menolak patuh dan menolak menjadi budak etika macam itu!  – Perempuan, Jilbab, dan Rokok – Lantes

Summary
Article Name
Perempuan, Jilbab, dan Rokok
Description
Nah, sebelum menjawab pertanyaan sepele itu, saya ingin bercerita dulu. Pernah suatu malam saya dan teman-teman sedang hang out ala kids jaman now di salah satu kafe hits yang ada di Pontianak. Saat itu kami melihat seorang perempuan, cantik versi standar masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.